Rabu, 16 Mei 2012

Nasional

                     Nasionalisme Dalam Sepakbola!

 
Asik menonton ulasan highlight liga-liga Eropa yg semkin panas bersama teman-teman. Berbagai tayangan liga Spanyol, Inggris, Jerman, Itali, Prancis dan lainnya.
Tiba-tiba, penyiar berita memberitahukan bahwa telah tiba pada segmen terakhir, yakni giliran kembali ke tanah air. Artinya, mengulas pertandingan-pertandingan sepak bola Indonesia.
Satu teman yan sedari tadi tampak serius langsung saja tertawa, terkekeh. Ada unsur meremehkan dalam tawanya. mengandung sarkasme tingkat tinggi. Teman-teman yang lain ikut terprovokasi, mungkin karena memang mempunyai emosi yang sama dengannya. reaksi berikutnya, kontan secara serempak saling menyuruh satu sama lain untuk segera mengganti saluran. meski akhirnya tak juga di ganti.
Pertanyaan yang muncul di pikiran saya waktu itu adalah, kenapa muncul kekehan sarkatis seperti itu? bukankah itu sama saja menertawakan diri sendiri?
sebuah representasi kita (Indonesia), dari kita, oleh kita dan untuk kita, tapi juga kita tertawakan bersama. ada semacam gejala sadhomasokisme nasionalisme yang muncul di sini.
Dalam membaca realitas bangsa kita–sebagaimana kata para pendahulu kita–tak bisa dilewatkan dalam menganalisisnya bahwa tak bisa melewatkan begitu saja sebuah kenyataan bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa jajahan. Dalam pada seperti ini, saya melihat relevansi pernyataaan semacam ini dalam realitas sehari-hari yang rupanya begitu tampak.


Sebelum televisi tanah air menayangkan liga Indonesia, tentunya kita tahu bahwa kita sudah begitu kenyang dengan suguhan liga-liga eropa jauh sebelumnya. saya ingat betul, dulu bahkan yang ada hanya liga itali saja.
kesadaran yang membentuk titik tolak standar kita adalah, sepak bola yang baik ya yang seperti itu. lama sekali kesadaran konsepsional itu bersemayam dalam otak seluruh penggila sepak bola di tanah air. apakah bisa, membandingkan sepak bola kita dengan segala macam tetek bengek persoalan (manajemen, misalnya) dengan persepakbolaan di eropa?
lantas, kenapa dengan tertawaan tadi? apanya yang lucu? apakah tidak ada keinginan kita untuk mempunyai timnas sepak bola yang hebat? dan kenapa mesti tertawa? bukankah itu adalah wajah sepak bola kita? bukankah itu berarti kita menertawakan diri sendiri?
Adalah seorang dari Cornell university Ben(edict) Anderson, yang membuat kita sadar, bahwa yang namanya nasionalisme itu tidak asal jatuh dari langit, langsung jadi. ada proses kultural yang mesti dilalui untuk menuju pada konsepsi sebuah bangsa.
Dengan mengutip pernyataan Hugh Seton Watson dalam bukunya Imagined Community (komunitas imajiner) Anderson mengatakan, sebuah bangsa akan eksis bila sejumlah dari anggotanya memiliki anggapan sebuah perasaan yang sama dalam suatu komunitas membentuk konsepsi sebuah bangsa.
Dari fenomena menonton sepak bola itu, muncul pertanyaan, sedemikian parahkah budaya modern silang peradaban (baca: globalisasi) merongrong semangat nasionalisme kita?
Maka, sadarlah! Bahwa yang namanya penjajahan (Imperialisme) itu masih berlanjut sampai sekarang. Penjajahan politik, ekonomi atau apapun tak akan pernah lepas dari aspek budaya. menyelusup dalam setiap sendi kehidupan objek para penjajah!



Senin, 14 Mei 2012



                    Kepakkan Sayap Sang Elang 

    (potongan dari kisah yang jauh lebih panjang)


1
“Dalam beberapa hal, kejujuran selalu lebih menyakitkan dibandingkan dengan kebohongan. Bahkan jika itu adalah kebohongan terbesar dalam sejarah umat manusia sekalipun”

Seorang teman di tempat aku belajar dan bekerja saat aku masih tinggal di sebuah Negri Tirai Bambu, dulu berkata demikian kepadaku. Tiba-tiba saja ia mengatakannya,"Tak ada awal dan tak ada akhir." Namun kata-kata yang diucapkannya sambil lalu itu tetap tak bisa kumengerti sepenuhnya. Sampai kini. Bahkan jika kubahas dengan seribu lembar kertas koran sekalipun.
Setidaknya kuanggap kalimat itu sebagai penghibur diri setiap kali aku sengaja berbohong.

Namun aku selalu disergap rasa gugup setiap akan mengatakan sesuatu. Karena dunia yang kutinggali begitu penuh dengan tuntutan-tuntutan yang aneh. Kalimat yang kusemburkan selalu saja tidak selaras dengan apa yang kupikirkan.

Bertahun-tahun perasan itu melandaku. Aku selalu merasa dikejar-kejar sesuatu yang tak pernah bisa kuajak bicara. Bertahun-tahun. Sungguh sangat menyiksa.

Aku pernah berfikir seperti ini. Menonjolkan kelebihan diri tanpa ada perasaan untuk sombong dan mengakui kelemahan diri tanpa ada perasaan lemah diri, bukankah itu sebuah sikap matang dari manusia dewasa? Hal itu kuanggap semacam sikap kukuh dalam hidup.

Saat usiaku genap memasuki tiga puluh tahun, tanpa kusadari sikap itu semakin melekat dalam keseharianku. Maka segeralah orang-orang mempunyai anggapan salah terhadapku. Sekaligus banyak mengalami pengalaman-pengalaman aneh. Banyak orang tiba-tiba merasa nyaman denganku. Mereka datang dan menceritakan segala hal dari hidupnya yang tak pernah mereka tunjukkan ke orang lain sebelumnya. Berlalu lalang di depanku dan bernyanyi lama-lama kemudian pergi begitu saja seolah-olah sedang melewati sebuah jalan panjang yang sepi. Dengan seperti itulah umur tigapuluhku terisi.

Sekarang aku ingin menulis. Kalian boleh menyebutnya cerita, coretan atau apapun.
Belum ada satupu kondisi yang memuaskan. Dan mungkin saja memang tak akan pernah berubah sampai tulisan ini berakhir. Bagiku, menulis adalah salah satu upaya dimana aku bisa lebih jujur tanpa terbebani hal-hal yang selalu muncul berhiruk pikuk di pikiranku setiap kali aku ingin berbicara dengan orang lain.

Tapi memang harus kuakui, sungguh sulit rasanya untuk bisa bersikap demikian. Tak terkecuai saat aku mulai menulis. Semakin aku berusaha, kalimat-kalimat yang kususun tampak seperti nisan-nisan pekuburan, berjejalan dan acak.

Aku tidak sedang melindungi diri. Paling tidak, apa yang kutuliskan di sini adalah yang paling jujur dari sekian hal di kepalaku. Tidak ada yang kulebih-lebihkan. Sekarang aku malah berfikir, Jika semua ini bisa kuselesaikan, mungkin nanti aku bisa bersikap sedikit tenang. Entah itu pada kata-kata terakhir yang kucoret atau beribu-ribu kata di luar tulisan ini. Saat itu, pikiranku akan lebih sejuk dan bisa sedikit menikmati hidupku serta mulai menulis segala hal lebih enteng.



Aku banyak belajar tentang kejujuran dari Jose Mourinho. Mungkin seharusnya aku mengakui bahwa aku berguru kepadanya secara diam-diam. Sayangnya, banyak orang menyebut Mou kontroversial dan lebih pandai berkata-kata ketimbang berbuat. Apabila kau adalah penggila bola dan mau mengikuti berita-berita media yang meliputnya, kau pasti mengerti. Kata-katanya sering membuat merah telinga orang yang dibicarakannya, sikapnya sulit dipahami,  dan banyak yang menyebutnya arogan.


Pada konferensi persnya yang pertama saat ia baru menginjakkan kakinya di tanah Inggris, ia berkata, Please, don’t call me arrogant, but I’m european champion and I think I’m a special one. Mungkin karena menyebut dirinya dengan special one itu yang membuat mereka menyebutnya arogan. Namun dialah satu dari sedikit tokoh hebat yang mampu tetap kukuh untuk tidak berpura-pura dalam segala hal dan mampu berperang dengan kata-kata. Kupikir bila disandingkan dengan tokoh hebat semacam Sir Alex Fergusson ataupun Syarkhozy sekalipun, karakter, gaya percaya diri pada kemampuannya dan sikap ambisiusnya sama sekali tidak kalah. Sayangnya, media-media selalu  menajdikannya musuh bersama.
Seperti katanya,
Faktanya tetap demikian bahwa ini adalah perang yang tidak bisa saya menangi karena kalian berjumlah banyak dan saya hanya sendiri. Saya boleh kalah perang tapi tidak dengan pribadi saya, tidak pula dengan kebebasan atau pemikiran saya Saya tidak akan pernah menjadi penjilat. Saya akan tetap pada pendirian walau banyak orang tidak menyukainya.

Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Dalam bekerja, Ia hanya percaya dengan kemampuannya sendiri. Saat Ia bersitegang dengan pemilik klub  yang dilatihnya saat itu, Roman Abramovich, Ia lebih memilih pergi daripada harus bekerja sementara ada orang yang mendiktenya dalam menyusun strategi.

“Unbelievable, but nobody should say unrepeatable”,  katanya.

Tak ubahnya saat ia datang, kepergianya pun memancing media-media untuk meliput kontroversialnya.

If any other coach cays they are going to be championship, I say: No, you won’t.


Pertama kali aku mengenal sosok Mou yang dibenci media tapi selalu dicintai oleh para pemain dan staf klub yang dilatihnya ini adalah saat ia masih menjadi manajer FC Porto dari sebuah majalah ternama negeri ini. Tepatnya saat aku pulang dari perantauan panjangku.

Tiga tahun setelah membelikan majalah itu, ibuku mencapai puncak sakitnya setelah 15 tahun lebih mengidap berbagai macam penyakit dan membuat tangan dan kaki kirinya tak bisa bergerak. Beliau meninggal dengan tenang. Terakhir kali aku melihat wajahnya sebelum dikafani, tampak sesungging senyum di bibirnya. Seperti baru saja meletakkan beban berat yang bertahun-tahun menindih punggungnya. Memang, beban terberat dalam hidup adalah hidup itu sendiri.

***

Di rumah aku hanya sendirian. Sepeninggal ibuku, adikku yang pertama tinggal bersama suaminya,mengikutinya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah sedangkan ayahku tetap merantau untuk bekerja, tak beda seperti sebelumnya.
***
Mou pernah berkata tentang kejujuran dengan sangat mempesona seperti ini. Berbicara secara jujur, kita harus melihat segala hal, bukannya hanya melihat yang akan membuat senang pihak tertentu.

***

Pada tahun meninggalnya Gus Dur, aku mulai memperlakukan sekelilingku dengan sangat terbuka dan tidak mempertimbangkan pihak-pihak tertentu. Sejak itu, sudah 5 tahun berlalu. Dalam 5 tahun aku benar-benar sudah menganggap segala hal adalah sama. Tak ada yang istimewa. Tak beda seperti anak kecil yang memegang martil, menganggap semua disekitarnya adalah paku. Selama lima tahun aku terus berupaya untuk jujur akan segala hal.

Aku tak punya seperangkat keyakinan untuk berkata bahwa tindakanku itu benar atau tidak. Aku memang merasa lebih ringan, tapi aku begitu gugup ketika merenungi apalagi yang tersisa dari dunia ini tatkala semuanya tampak begitu telanjang, tak ada lagi hal-hal tersembunyi yang dapat memancing rasa penasaran mungkin tidak ada sepotong benangpun yang melekat di tubuh orang-orang di pasar,

“orang-orang harus pandai dalam memilih pakaian mana yang seharusnya ia kenakan”, kata nenekku yang sudah meninggal..

***

Sekali lagi aku akan bersikap jujur akan segala hal. Ini yang terakhir.

Bagiku, kejujuran selalu menjadi hal yang menyakitkan. Aku pernah sengaja melakukan kebohongan dalam sebulan penuh. Pernah pula menyebutkan kebiasaan-kebiasaan burukku kepada teman-temaku selama dua bulan. Tapi akhirnya kejujuran selalu lebih menyakitkan. Aku pernah meyakini bahwa kebohongan juga memiliki dimensi moral yang sama dengan kejujuran. Hanya tanggapan sekitar kita saja lah yang memang akan selalu beragam.

Namun, bersikap jujur dalam menulis bisa menjadi pekerjaan yang menggembirakan. Karena menuangkan kejujuran pada lembaran-lembaran kertas itu jauh lebih mudah dibandingkan harus menghadapi dunia.

Sedikit yang kusesali adalah aku baru menyadari itu semua ketika aku berusia sekitar 19 tahun. Seandainya bersikap wajar sedikit saja, mungkin aku sudah menjadi dewasa. Setelah waktu berlalu, aku curiga kalau itu semua hanyalah perangkap.

Aku mulai suka menuliskan segala hal di buku yang khusus kubeli hanya untuk menuangkan hal-hal yang bagiku berarti.

Diantara yang kita pikirkan dan mampu kita ucapkan serta kita lakukan terdapat jarak yang begitu lebar. Tak peduli berapa lama jarum jam berputar. Aku hanya bisa menulis semacam diary. Bukan karya sastra. Hanya coretan-coretan tak berbentuk dan tak perlu dicari pesan apa yang dikandungnya.

Bila kau mendambakan sastra, sebaiknya kau tanyakan saja pada mereka yang selalu membicarakan penindasan. Kalimat yang kususun hanya sebatas itu. Tak ubahnya seperti pemain sepak bola yang sudah berjam-jam melakukan pemanasan namun tak kunjung dimainkan.

2
Aku akan menulis cerita.  Cerita yang kelak menjadi kenang-kenangan. Setidaknya mampu menghibur hari tuaku saat  suatu hari nanti aku merindukan masa-masa muda dulu. Baiklah, ceritaku ini terjadi hanya dalam sepuluh hari di tahun 2011.

                     TERLALU, SUNGGUH TERLALU.....



Terlalu pinter banyak yang manfaatin
Terlalu goblok gampang dibodohin
Terlalu dikekang bikin gue pusing
Terlalu bebas malah bisa sinting
Terlalu putih dibilang sok suci
Terlalu hitam dianggap penganut setan
Terlalu Kebanyakan obsesi otak melayang
Terlalu Gak punya mimpi jiwa yang hilang
Terlalu atas banyak yang ngejilatin
Terlalu bawah gak keliatan dicuekin
Terlalu berani banyak musuh yang nantangin
Terlalu takut dibilang banci dikerjain
Terlalu depan nanti kena peluru nyasar
Terlalu belakang bisa dianggap makar
Terlalu kiri nanti dibilang komunis
Terlalu kanan jadi dikenal kapitalis tiba2

“Mengalah dianggap pasrah dan kalah
Melawan dibilang pahlawan kesiangan”

Gue bingung…!!!!!!!!!!
serba salah…!!!!!!!!!!!!

Selasa, 08 Mei 2012

Prestasi Bayu Seta FC. dari Masa ke Masa


2006 Juara 3 Turnamen Karang Taruna Cup Bongas Pentil Lap. Bongas Indramayu
2006 Juara 1 Turnamen Porcam Gabuswetan Lap.Gabus Indramayu
2008 Juara 1 Turnamen HUT Kemerdekaan RI Ke.64, Karang Taruna Desa Wirakanan Lapangan Desa Wirakanan Kandanghaur, Indramayu
2009 Juara 1 Turnamen Porcam Gabuswetan Lap.Kagok, Indramayu
2010 Juara 1 Turnamen Futsal Porcam Gabuswetan Lap.Gabuswetan
2011 Juara 1 Turnamen Karang Taruna Cup Kedungdawa Lap. Desa Kedungdawa Indramayu
2011 Juara 1 Turnamen Karang Taruna Cup Cilegeh Lap.Desa Cilegeh, Indramayu
2012 Runner Up 2 (Juara III) Turnamen Ir.H.Abdul Aziz Cup I Std. Sunter Jakut

Jadwal Pertandingan Bayu Seta FC.


Hari/Tanggal
Minggu, 11 Mei 2012


Kesebelasan Lawan
Pamanukan FC


Alamat Club
Subang


Waktu
15.30 wib


Acara
Persahabatan, memeriahkan Pernikahan Badrun Versus Shanty

Tempat
Lapangan Darma Pusaka Druntenwetan




Hari/Tanggal
Minggu, 18 Mei 2012


Kesebelasan Lawan
Persija Junior


Alamat Club
DKI Jakarta


Waktu
15.30 wib


Acara
Persahabatan,

Tempat
Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta


Senin, 07 Mei 2012

ANALISIS SEPAKBOLA : Turnamen Sepak Bola Ir.H.Abdul Aziz Cup I Antara Koneksi, Prestasi dan Prestisius


Menilik perkembangan dunia sepakbola Nasional, Dewasa ini telah lama menjadi trend move baru tidak hanya sebuah prestasion targeting yang menjadi tujuan utama akan tetapi sebuah prestisius, kebanggaan dan nilai gengsi tersendiri manakalah sebuah target maksimal mencapai puncaknya. betapa tidak, sudah menjadi rahasia umum melalui nilai jual cabang olahraga satu ini yang murah meriah digemari segala lapisan masyarakat dan syarat akan nilai semangat perjuangan, kebersamaan dan filosofi ketatanegaraan ini telah dijadikannya tidak hanya sebuah prestasi keolahragaan akan tetapi lebih dari itu menjurus kearah bisnis dan tak jarang pula ditempatkannya pada posisi nilai tawar ranah politik. tak heran bila persepakbolaan nasional sepi dari prestasi internasional.

Bayangkan saja, dengan sistem Liga Nasional yang ajaib ada dua sistem liga nasional ISL (Indonesia Super Ligue) dan IPL (Indonesian Premier Ligue) di dalam satu Negara Kesatuan Republik ini, serta dengan kepengurusan PSSI yang dualisme keberadaannya antara Pengurus PSSI besutan Kongres Solo dan PSSI tandingan gerakan Tony Apriliani telah mampu menunjukan prestasi dunia sepakbola Nasional yang kian memburuk setelah di gilas Bahrain 10-0 di ajang kualifikasi pra Piala Dunia 2014 Brazil. Sungguh memalukan, bangsa besar yang memiliki jutaan putra-putra bangsa, talent-talent pesepakbola handal harus bertekuk lutut di kaki bangsa lain. semestinya koreksi serius dengan kegagalan itu bagi segenap pengurus bahkan masyarakat negri ini karena sepakbola bukan hanya milik pengurus PSSI tapi milik bangsa Indonesia, kebanggaan Negeri, haqul yaqin tumpah darah Indonesia. bukankah kita serentak tanpa komando merasa bangga bila melihat sang Garuda lepas landas kepakan sayapnya terbang ke angkasa mengukir prestasi tertingginya?
Entah sampai kapan kerinduan prestasi timnas bangsa ini akan terobati teramat lelah bangsa ini menunggu dan menunggu hampir putus asa bila melihat kiprah timnas kita di kancah internasional kian memburuk.Jangankan di perhelatan World Cup di ajang Asia saja timnas kita belum mampu berbicara banyak. Ibarat sebuah pepatah lama mengatakan, "Bagai Jawara terpuruk di lubang Istana". Miris memang ketika kita mendengar, melihat para pelaku steakholder Persepakbolaan Nasional kita saling adu bogem memperebutkan sebuah kursi nomor satu di PSSI. tak heran juga bila warna kekerasanpun kian marak mewarnai dunia Persepakbolaan Nasional. Baik lokal, reguler maupun di  Liga Nasional yang notebone bukan itu tujuan utama dari semuanya itu akan tapi prestasi profesionalitas, prestisius yang harus di raih dengan elegan serta semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai Fairplay dimanapun juga, tidak hanya di ajang kompetisi, di lapangan saja misalnya, akan tetapi juga semestinya melekat erat di benak para pengurus PSSI itu sendiri baik teknis maupun non teknis. Hingga sebuah presatasi dan prestisius yang di raih benar-benar pyur hasil usaha dan semangat sehat sejalan dengan slogan, "Olahraga sepakbola yang menyehatkan membentuk karakteristik masyarakat yang sehat menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas."

Menyadari akan hal itu terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari semua itu telah menggugah keperihatinan dan niat tulus di hati seorang pengusaha sukses Batubara Jakarta, IR H. Abdul Aziz dengan segenap para ponggawanya untuk menyelenggarakan sebuah ajang kompetisi setingkat reguler dengan tajuk, Kompetisi Sepakbola Ir.H. Abdul Aziz Cup I yang diselenggarakan di Stadion Sunter Jakarta Utara dengan memperebutkan hadiah yang konon mencapai total 150 juta itu, diperebutkan lebih dari 6 Klub dari Jakarta diantaranya Persija U21 dan Klub yang sedang naik daun asal Dusun Kamplong, Druntenwetan, Gabuswetan Wilayah II Indramayu, yakni Bayu Seta FC.

Satu hal yang cukup menarik dan patut diapresiasi di sini adalah di beri kesempatannya Klub sepakbola setingkat Daerah Indramayu yang terlepas dari pantuan Divisi III yakni, Bayu Seta FC untuk dapat turut berpartisipasi mengikuti ajang kompetisi yang cukup meriah ini. Mengapa tidak, ditengah-tengah minimnya perestasi dan pembinaan pemain-pemain sepakbola melalui kompetisi lokal di daerah khususnya Indramayu yang mati suri. Senyatanya, telah memberi angin segar bagi putra-putra daerah Indramayu yang memiliki kemampuan talent menggocek si kulit bundar itu dirasakan ada perhatian dan harapan yang mereka gantungkan jauh-jauh hari demi kemajuan persepakbolaan di tingkat daerah khususnya maupun di tingkat yang lebih tinggi lagi pada umumnya.Andaikan saja Pengelolaan dan pembinaan di daerah terlaksana secara kontinyu mungkin tidak akan ada lagi terdengar rumor kesempatan putra-putra daerah yang mumpuni tersebut terkebiri oleh kebijakan dan kecurangan para pengurus PSSI di dareah maupun pengurus klub itu sendiri dalam menyeleksi para pemain-pemain muda yang berbakat untuk sekiranya dapat dipromosikan kejenjang ajang yang lebih tinggi lagi. Banyaknya oknum yang mengkebiri dan menginpotensikan para pemain juga merupakan tindakan konyol menghambat prestasi sepakbola, seperi di klub daerah misalnya, banyak yang gulung tikar karena tak berdaya mengelola klub dengan baik. sistem non teknis juga banyak diduduki oknum-oknum yang tidak paham akan sepakbola itu sendiri. mereka sebagian besar hanya mengambil keuntungan dari kelengahan Sang empunya Klub sehingga para pemain tak jarang dibodohi dan di pandang asal main dari para penyedia jasa pesanan pemain di luar klub. Padahal prestasi sepakbola di ajang sesunngguhnya adalah ketika klub-klub kompetitor mampu menyuguhkan permainan sepakbola yang bagus, menjunjung tinggi fairplay, sportivitas tinggi, minim dari pelanggaran-pelannggaran di lapangan itulah sebenarnya prestasi sesungguhnya. Bila saja klub semisal, Bayu Seta FC. mampu dikelola dengan manajemen yang baik terlepas dari oknum-oknum broker mungkin akan bisa menumbuh kembangkan minat dan semangat para pemain untuk meningkatkan kemauan dan kemampuannya sehingga impiannya dapat bertemu di final dengan Persija U21 tidak hanya sebatas mimpi, seperti seloroh pengurus Persija U21 yang mengatakan, "Seharusnya Bayu Seta FC yang masuk final menghadapi kami Persija U21."
Akan tetapi meski Bayu Seta FC hanya mampu menempati posisi urutan runner up 2 (Juara III) setelah berbagi angka 2-1 dengan UMC Jakarta terasa cukup mengobati kekecewaan Bayu Mania Fans Club yang dengan setia mendampingi dan mensuport klub kesayangannya ketika berlaga tandang dimanapun juga, salut dan angkat topi untuk kekompakan para suporter Bayu Mania yang cukup memberi contoh baik di mata masyarakat perkotaan dengan tetap memberi semangat pada tim kesayangannya tanpa mesti harus anarkis.

Kompetisi yang menggunakan sistem gugur ini cukup mengobati kerinduan masyarakat daerah akan sebuah ajang kompetisi sepakbola reguler non subsidi baik pemerintah maupun Sponsor yang mulai tampak jarang terlihat gaungnya akhir-akhir ini.
Pada akhirnya Turnamen ini harus disudahi dengan adu pinalty antara UMC Jakarta Vs. Persija U21 setelah bermain imbang 1-1. dan dimenangkan Persija U21 dengan skor 3-5.(1/5)
Hadiahnyapun langsung diserahkan oleh Bapak Ir.H. Abdul Aziz dan ibu Hj.Juedah(istri) didampingi ketua PSSI DKI Jakarta.

Kompetisi yang diselenggarakan dengan biaya sponsor tunggal Bapak Ir.H.Abdul aziz itu sendiri setidaknya bisa membuka mata para pelaku pengurus PSSI yang selalu berebut tahta kursi dan bukan karena sebuah prestasi dan prestisius akan tapi mereka memperebutkan hasil nilai jual Kompetisi dan Dana subsidi dari pihak Sponsor dan Pemerintah tanpa mempertimbangkan sedikitpun perkembangan kemajuan Persepakbolaan Nasional di mata Internasional.
Semoga akan lahir kompetisi-kompetisi sepakbola lainnya yang lebih baik, baik pengelolaannya, baik permainannya, minim kecurangannya dan yang terpenting minim broker dan lebih besar lagi bonus prestasinya, semoga.....