Nasionalisme Dalam Sepakbola!
Asik menonton ulasan highlight liga-liga Eropa yg semkin panas bersama
teman-teman. Berbagai tayangan liga Spanyol, Inggris, Jerman,
Itali, Prancis dan lainnya.
Tiba-tiba, penyiar berita memberitahukan bahwa telah tiba pada segmen
terakhir, yakni giliran kembali ke tanah air. Artinya, mengulas
pertandingan-pertandingan sepak bola Indonesia.
Satu teman yan sedari tadi tampak serius langsung saja tertawa,
terkekeh. Ada unsur meremehkan dalam tawanya. mengandung sarkasme
tingkat tinggi. Teman-teman yang lain ikut terprovokasi, mungkin karena
memang mempunyai emosi yang sama dengannya. reaksi berikutnya, kontan
secara serempak saling menyuruh satu sama lain untuk segera mengganti
saluran. meski akhirnya tak juga di ganti.
Pertanyaan yang muncul di pikiran saya waktu itu adalah, kenapa
muncul kekehan sarkatis seperti itu? bukankah itu sama saja menertawakan
diri sendiri?
sebuah representasi kita (Indonesia), dari kita, oleh kita dan untuk kita, tapi
juga kita tertawakan bersama. ada semacam gejala sadhomasokisme
nasionalisme yang muncul di sini.
Dalam membaca realitas bangsa kita–sebagaimana kata para pendahulu
kita–tak bisa dilewatkan dalam menganalisisnya bahwa tak bisa melewatkan
begitu saja sebuah kenyataan bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa
jajahan. Dalam pada seperti ini, saya melihat relevansi pernyataaan
semacam ini dalam realitas sehari-hari yang rupanya begitu tampak.
Sebelum televisi tanah air menayangkan liga Indonesia, tentunya kita
tahu bahwa kita sudah begitu kenyang dengan suguhan liga-liga eropa jauh
sebelumnya. saya ingat betul, dulu bahkan yang ada hanya liga itali
saja.
kesadaran yang membentuk titik tolak standar kita adalah, sepak bola
yang baik ya yang seperti itu. lama sekali kesadaran konsepsional itu
bersemayam dalam otak seluruh penggila sepak bola di tanah air. apakah
bisa, membandingkan sepak bola kita dengan segala macam tetek bengek
persoalan (manajemen, misalnya) dengan persepakbolaan di eropa?
lantas, kenapa dengan tertawaan tadi? apanya yang lucu? apakah tidak
ada keinginan kita untuk mempunyai timnas sepak bola yang hebat? dan
kenapa mesti tertawa? bukankah itu adalah wajah sepak bola kita?
bukankah itu berarti kita menertawakan diri sendiri?
Adalah seorang dari Cornell university Ben(edict) Anderson, yang
membuat kita sadar, bahwa yang namanya nasionalisme itu tidak asal jatuh
dari langit, langsung jadi. ada proses kultural yang mesti dilalui
untuk menuju pada konsepsi sebuah bangsa.
Dengan mengutip pernyataan Hugh Seton Watson dalam bukunya Imagined
Community (komunitas imajiner) Anderson mengatakan, sebuah bangsa akan
eksis bila sejumlah dari anggotanya memiliki anggapan sebuah perasaan
yang sama dalam suatu komunitas membentuk konsepsi sebuah bangsa.
Dari fenomena menonton sepak bola itu, muncul pertanyaan, sedemikian
parahkah budaya modern silang peradaban (baca: globalisasi) merongrong
semangat nasionalisme kita?
Maka, sadarlah! Bahwa yang namanya penjajahan (Imperialisme) itu
masih berlanjut sampai sekarang. Penjajahan politik, ekonomi atau apapun
tak akan pernah lepas dari aspek budaya. menyelusup dalam setiap sendi
kehidupan objek para penjajah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar