"Menumbuhkan Semangat Olahraga Sepakbola Yang Fair Play Dalam Mencapai Puncak Prestasi Tertinggi"
Senin, 07 Mei 2012
ANALISIS SEPAKBOLA : Turnamen Sepak Bola Ir.H.Abdul Aziz Cup I Antara Koneksi, Prestasi dan Prestisius
Menilik perkembangan dunia sepakbola Nasional, Dewasa ini telah lama menjadi trend move baru tidak hanya sebuah prestasion targeting yang menjadi tujuan utama akan tetapi sebuah prestisius, kebanggaan dan nilai gengsi tersendiri manakalah sebuah target maksimal mencapai puncaknya. betapa tidak, sudah menjadi rahasia umum melalui nilai jual cabang olahraga satu ini yang murah meriah digemari segala lapisan masyarakat dan syarat akan nilai semangat perjuangan, kebersamaan dan filosofi ketatanegaraan ini telah dijadikannya tidak hanya sebuah prestasi keolahragaan akan tetapi lebih dari itu menjurus kearah bisnis dan tak jarang pula ditempatkannya pada posisi nilai tawar ranah politik. tak heran bila persepakbolaan nasional sepi dari prestasi internasional.
Bayangkan saja, dengan sistem Liga Nasional yang ajaib ada dua sistem liga nasional ISL (Indonesia Super Ligue) dan IPL (Indonesian Premier Ligue) di dalam satu Negara Kesatuan Republik ini, serta dengan kepengurusan PSSI yang dualisme keberadaannya antara Pengurus PSSI besutan Kongres Solo dan PSSI tandingan gerakan Tony Apriliani telah mampu menunjukan prestasi dunia sepakbola Nasional yang kian memburuk setelah di gilas Bahrain 10-0 di ajang kualifikasi pra Piala Dunia 2014 Brazil. Sungguh memalukan, bangsa besar yang memiliki jutaan putra-putra bangsa, talent-talent pesepakbola handal harus bertekuk lutut di kaki bangsa lain. semestinya koreksi serius dengan kegagalan itu bagi segenap pengurus bahkan masyarakat negri ini karena sepakbola bukan hanya milik pengurus PSSI tapi milik bangsa Indonesia, kebanggaan Negeri, haqul yaqin tumpah darah Indonesia. bukankah kita serentak tanpa komando merasa bangga bila melihat sang Garuda lepas landas kepakan sayapnya terbang ke angkasa mengukir prestasi tertingginya?
Entah sampai kapan kerinduan prestasi timnas bangsa ini akan terobati teramat lelah bangsa ini menunggu dan menunggu hampir putus asa bila melihat kiprah timnas kita di kancah internasional kian memburuk.Jangankan di perhelatan World Cup di ajang Asia saja timnas kita belum mampu berbicara banyak. Ibarat sebuah pepatah lama mengatakan, "Bagai Jawara terpuruk di lubang Istana". Miris memang ketika kita mendengar, melihat para pelaku steakholder Persepakbolaan Nasional kita saling adu bogem memperebutkan sebuah kursi nomor satu di PSSI. tak heran juga bila warna kekerasanpun kian marak mewarnai dunia Persepakbolaan Nasional. Baik lokal, reguler maupun di Liga Nasional yang notebone bukan itu tujuan utama dari semuanya itu akan tapi prestasi profesionalitas, prestisius yang harus di raih dengan elegan serta semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai Fairplay dimanapun juga, tidak hanya di ajang kompetisi, di lapangan saja misalnya, akan tetapi juga semestinya melekat erat di benak para pengurus PSSI itu sendiri baik teknis maupun non teknis. Hingga sebuah presatasi dan prestisius yang di raih benar-benar pyur hasil usaha dan semangat sehat sejalan dengan slogan, "Olahraga sepakbola yang menyehatkan membentuk karakteristik masyarakat yang sehat menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas."
Menyadari akan hal itu terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari semua itu telah menggugah keperihatinan dan niat tulus di hati seorang pengusaha sukses Batubara Jakarta, IR H. Abdul Aziz dengan segenap para ponggawanya untuk menyelenggarakan sebuah ajang kompetisi setingkat reguler dengan tajuk, Kompetisi Sepakbola Ir.H. Abdul Aziz Cup I yang diselenggarakan di Stadion Sunter Jakarta Utara dengan memperebutkan hadiah yang konon mencapai total 150 juta itu, diperebutkan lebih dari 6 Klub dari Jakarta diantaranya Persija U21 dan Klub yang sedang naik daun asal Dusun Kamplong, Druntenwetan, Gabuswetan Wilayah II Indramayu, yakni Bayu Seta FC.
Satu hal yang cukup menarik dan patut diapresiasi di sini adalah di beri kesempatannya Klub sepakbola setingkat Daerah Indramayu yang terlepas dari pantuan Divisi III yakni, Bayu Seta FC untuk dapat turut berpartisipasi mengikuti ajang kompetisi yang cukup meriah ini. Mengapa tidak, ditengah-tengah minimnya perestasi dan pembinaan pemain-pemain sepakbola melalui kompetisi lokal di daerah khususnya Indramayu yang mati suri. Senyatanya, telah memberi angin segar bagi putra-putra daerah Indramayu yang memiliki kemampuan talent menggocek si kulit bundar itu dirasakan ada perhatian dan harapan yang mereka gantungkan jauh-jauh hari demi kemajuan persepakbolaan di tingkat daerah khususnya maupun di tingkat yang lebih tinggi lagi pada umumnya.Andaikan saja Pengelolaan dan pembinaan di daerah terlaksana secara kontinyu mungkin tidak akan ada lagi terdengar rumor kesempatan putra-putra daerah yang mumpuni tersebut terkebiri oleh kebijakan dan kecurangan para pengurus PSSI di dareah maupun pengurus klub itu sendiri dalam menyeleksi para pemain-pemain muda yang berbakat untuk sekiranya dapat dipromosikan kejenjang ajang yang lebih tinggi lagi. Banyaknya oknum yang mengkebiri dan menginpotensikan para pemain juga merupakan tindakan konyol menghambat prestasi sepakbola, seperi di klub daerah misalnya, banyak yang gulung tikar karena tak berdaya mengelola klub dengan baik. sistem non teknis juga banyak diduduki oknum-oknum yang tidak paham akan sepakbola itu sendiri. mereka sebagian besar hanya mengambil keuntungan dari kelengahan Sang empunya Klub sehingga para pemain tak jarang dibodohi dan di pandang asal main dari para penyedia jasa pesanan pemain di luar klub. Padahal prestasi sepakbola di ajang sesunngguhnya adalah ketika klub-klub kompetitor mampu menyuguhkan permainan sepakbola yang bagus, menjunjung tinggi fairplay, sportivitas tinggi, minim dari pelanggaran-pelannggaran di lapangan itulah sebenarnya prestasi sesungguhnya. Bila saja klub semisal, Bayu Seta FC. mampu dikelola dengan manajemen yang baik terlepas dari oknum-oknum broker mungkin akan bisa menumbuh kembangkan minat dan semangat para pemain untuk meningkatkan kemauan dan kemampuannya sehingga impiannya dapat bertemu di final dengan Persija U21 tidak hanya sebatas mimpi, seperti seloroh pengurus Persija U21 yang mengatakan, "Seharusnya Bayu Seta FC yang masuk final menghadapi kami Persija U21."
Akan tetapi meski Bayu Seta FC hanya mampu menempati posisi urutan runner up 2 (Juara III) setelah berbagi angka 2-1 dengan UMC Jakarta terasa cukup mengobati kekecewaan Bayu Mania Fans Club yang dengan setia mendampingi dan mensuport klub kesayangannya ketika berlaga tandang dimanapun juga, salut dan angkat topi untuk kekompakan para suporter Bayu Mania yang cukup memberi contoh baik di mata masyarakat perkotaan dengan tetap memberi semangat pada tim kesayangannya tanpa mesti harus anarkis.
Kompetisi yang menggunakan sistem gugur ini cukup mengobati kerinduan masyarakat daerah akan sebuah ajang kompetisi sepakbola reguler non subsidi baik pemerintah maupun Sponsor yang mulai tampak jarang terlihat gaungnya akhir-akhir ini.
Pada akhirnya Turnamen ini harus disudahi dengan adu pinalty antara UMC Jakarta Vs. Persija U21 setelah bermain imbang 1-1. dan dimenangkan Persija U21 dengan skor 3-5.(1/5)
Hadiahnyapun langsung diserahkan oleh Bapak Ir.H. Abdul Aziz dan ibu Hj.Juedah(istri) didampingi ketua PSSI DKI Jakarta.
Kompetisi yang diselenggarakan dengan biaya sponsor tunggal Bapak Ir.H.Abdul aziz itu sendiri setidaknya bisa membuka mata para pelaku pengurus PSSI yang selalu berebut tahta kursi dan bukan karena sebuah prestasi dan prestisius akan tapi mereka memperebutkan hasil nilai jual Kompetisi dan Dana subsidi dari pihak Sponsor dan Pemerintah tanpa mempertimbangkan sedikitpun perkembangan kemajuan Persepakbolaan Nasional di mata Internasional.
Semoga akan lahir kompetisi-kompetisi sepakbola lainnya yang lebih baik, baik pengelolaannya, baik permainannya, minim kecurangannya dan yang terpenting minim broker dan lebih besar lagi bonus prestasinya, semoga.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar