Kepakkan Sayap Sang Elang
(potongan dari kisah yang jauh lebih panjang)
1
“Dalam beberapa hal, kejujuran selalu lebih menyakitkan
dibandingkan dengan kebohongan. Bahkan jika itu adalah kebohongan
terbesar dalam sejarah umat manusia sekalipun”
Seorang teman di tempat aku belajar dan bekerja saat aku masih tinggal di sebuah Negri Tirai Bambu, dulu berkata
demikian kepadaku. Tiba-tiba saja ia mengatakannya,"Tak ada awal dan tak
ada akhir." Namun kata-kata yang diucapkannya sambil lalu itu tetap tak
bisa kumengerti sepenuhnya. Sampai kini. Bahkan jika kubahas dengan
seribu lembar kertas koran sekalipun.
Setidaknya kuanggap kalimat itu sebagai penghibur diri setiap kali aku sengaja berbohong.
Namun aku selalu disergap rasa gugup setiap akan mengatakan sesuatu.
Karena dunia yang kutinggali begitu penuh dengan tuntutan-tuntutan yang
aneh. Kalimat yang kusemburkan selalu saja tidak selaras dengan apa yang kupikirkan.
Bertahun-tahun perasan itu melandaku. Aku selalu merasa dikejar-kejar
sesuatu yang tak pernah bisa kuajak bicara. Bertahun-tahun. Sungguh
sangat menyiksa.
Aku pernah berfikir seperti ini. Menonjolkan kelebihan diri tanpa ada
perasaan untuk sombong dan mengakui kelemahan diri tanpa ada perasaan
lemah diri, bukankah itu sebuah sikap matang dari manusia dewasa? Hal
itu kuanggap semacam sikap kukuh dalam hidup.
Saat usiaku genap memasuki tiga puluh tahun, tanpa kusadari sikap itu
semakin melekat dalam keseharianku. Maka segeralah orang-orang mempunyai
anggapan salah terhadapku. Sekaligus banyak mengalami
pengalaman-pengalaman aneh. Banyak orang tiba-tiba merasa nyaman
denganku. Mereka datang dan menceritakan segala hal dari hidupnya yang
tak pernah mereka tunjukkan ke orang lain sebelumnya. Berlalu lalang di
depanku dan bernyanyi lama-lama kemudian pergi begitu saja seolah-olah
sedang melewati sebuah jalan panjang yang sepi. Dengan seperti itulah
umur tigapuluhku terisi.
Sekarang aku ingin menulis. Kalian boleh menyebutnya cerita, coretan atau apapun.
Belum ada satupu kondisi yang memuaskan. Dan mungkin saja memang tak
akan pernah berubah sampai tulisan ini berakhir. Bagiku, menulis adalah
salah satu upaya dimana aku bisa lebih jujur tanpa terbebani hal-hal
yang selalu muncul berhiruk pikuk di pikiranku setiap kali aku ingin
berbicara dengan orang lain.
Tapi memang harus kuakui, sungguh sulit rasanya untuk bisa bersikap
demikian. Tak terkecuai saat aku mulai menulis. Semakin aku berusaha,
kalimat-kalimat yang kususun tampak seperti nisan-nisan pekuburan,
berjejalan dan acak.
Aku tidak sedang melindungi diri. Paling tidak, apa yang kutuliskan
di sini adalah yang paling jujur dari sekian hal di kepalaku. Tidak ada
yang kulebih-lebihkan. Sekarang aku malah berfikir, Jika semua ini bisa
kuselesaikan, mungkin nanti aku bisa bersikap sedikit tenang. Entah itu
pada kata-kata terakhir yang kucoret atau beribu-ribu kata di luar
tulisan ini. Saat itu, pikiranku akan lebih sejuk dan bisa sedikit
menikmati hidupku serta mulai menulis segala hal lebih enteng.
Aku banyak belajar tentang kejujuran dari Jose Mourinho. Mungkin
seharusnya aku mengakui bahwa aku berguru kepadanya secara diam-diam.
Sayangnya, banyak orang menyebut Mou kontroversial dan lebih pandai
berkata-kata ketimbang berbuat. Apabila kau adalah penggila bola dan mau
mengikuti berita-berita media yang meliputnya, kau pasti mengerti.
Kata-katanya sering membuat merah telinga orang yang dibicarakannya,
sikapnya sulit dipahami, dan banyak yang menyebutnya arogan.
Pada konferensi persnya yang pertama saat ia baru menginjakkan kakinya di tanah Inggris, ia berkata, Please, don’t call me arrogant, but I’m european champion and I think I’m a special one. Mungkin karena menyebut dirinya dengan special one
itu yang membuat mereka menyebutnya arogan. Namun dialah satu dari
sedikit tokoh hebat yang mampu tetap kukuh untuk tidak berpura-pura
dalam segala hal dan mampu berperang dengan kata-kata. Kupikir bila
disandingkan dengan tokoh hebat semacam Sir Alex Fergusson ataupun
Syarkhozy sekalipun, karakter, gaya percaya diri pada kemampuannya dan
sikap ambisiusnya sama sekali tidak kalah. Sayangnya, media-media selalu
menajdikannya musuh bersama.
Seperti katanya,
Faktanya tetap demikian bahwa ini adalah perang yang tidak bisa
saya menangi karena kalian berjumlah banyak dan saya hanya sendiri. Saya
boleh kalah perang tapi tidak dengan pribadi saya, tidak pula dengan
kebebasan atau pemikiran saya Saya tidak akan pernah menjadi penjilat.
Saya akan tetap pada pendirian walau banyak orang tidak menyukainya.
Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Dalam bekerja, Ia hanya percaya
dengan kemampuannya sendiri. Saat Ia bersitegang dengan pemilik klub
yang dilatihnya saat itu, Roman Abramovich, Ia lebih memilih pergi
daripada harus bekerja sementara ada orang yang mendiktenya dalam
menyusun strategi.
“Unbelievable, but nobody should say unrepeatable”, katanya.
Tak ubahnya saat ia datang, kepergianya pun memancing media-media untuk meliput kontroversialnya.
If any other coach cays they are going to be championship, I say: No, you won’t.
Pertama kali aku mengenal sosok Mou yang dibenci media tapi selalu
dicintai oleh para pemain dan staf klub yang dilatihnya ini adalah saat
ia masih menjadi manajer FC Porto dari sebuah majalah ternama negeri
ini. Tepatnya saat aku pulang dari perantauan panjangku.
Tiga tahun setelah membelikan majalah itu, ibuku mencapai puncak
sakitnya setelah 15 tahun lebih mengidap berbagai macam penyakit dan
membuat tangan dan kaki kirinya tak bisa bergerak. Beliau meninggal
dengan tenang. Terakhir kali aku melihat wajahnya sebelum dikafani,
tampak sesungging senyum di bibirnya. Seperti baru saja meletakkan beban
berat yang bertahun-tahun menindih punggungnya. Memang, beban terberat
dalam hidup adalah hidup itu sendiri.
***
Di rumah aku hanya sendirian. Sepeninggal ibuku, adikku yang pertama
tinggal bersama suaminya,mengikutinya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah sedangkan ayahku tetap merantau
untuk bekerja, tak beda seperti sebelumnya.
***
Mou pernah berkata tentang kejujuran dengan sangat mempesona seperti ini. Berbicara secara jujur, kita harus melihat segala hal, bukannya hanya melihat yang akan membuat senang pihak tertentu.
***
Pada tahun meninggalnya Gus Dur, aku mulai memperlakukan sekelilingku
dengan sangat terbuka dan tidak mempertimbangkan pihak-pihak tertentu.
Sejak itu, sudah 5 tahun berlalu. Dalam 5 tahun aku benar-benar sudah
menganggap segala hal adalah sama. Tak ada yang istimewa. Tak beda
seperti anak kecil yang memegang martil, menganggap semua disekitarnya
adalah paku. Selama lima tahun aku terus berupaya untuk jujur akan
segala hal.
Aku tak punya seperangkat keyakinan untuk berkata bahwa tindakanku
itu benar atau tidak. Aku memang merasa lebih ringan, tapi aku begitu
gugup ketika merenungi apalagi yang tersisa dari dunia ini tatkala
semuanya tampak begitu telanjang, tak ada lagi hal-hal tersembunyi yang
dapat memancing rasa penasaran mungkin tidak ada sepotong benangpun yang
melekat di tubuh orang-orang di pasar,
“orang-orang harus pandai dalam memilih pakaian mana yang seharusnya ia kenakan”, kata nenekku yang sudah meninggal..
***
Sekali lagi aku akan bersikap jujur akan segala hal. Ini yang terakhir.
Bagiku, kejujuran selalu menjadi hal yang menyakitkan. Aku pernah
sengaja melakukan kebohongan dalam sebulan penuh. Pernah pula
menyebutkan kebiasaan-kebiasaan burukku kepada teman-temaku selama dua
bulan. Tapi akhirnya kejujuran selalu lebih menyakitkan. Aku pernah
meyakini bahwa kebohongan juga memiliki dimensi moral yang sama dengan
kejujuran. Hanya tanggapan sekitar kita saja lah yang memang akan selalu
beragam.
Namun, bersikap jujur dalam menulis bisa menjadi pekerjaan yang
menggembirakan. Karena menuangkan kejujuran pada lembaran-lembaran
kertas itu jauh lebih mudah dibandingkan harus menghadapi dunia.
Sedikit yang kusesali adalah aku baru menyadari itu semua ketika aku
berusia sekitar 19 tahun. Seandainya bersikap wajar sedikit saja,
mungkin aku sudah menjadi dewasa. Setelah waktu berlalu, aku curiga kalau
itu semua hanyalah perangkap.
Aku mulai suka menuliskan segala hal di buku yang khusus kubeli hanya untuk menuangkan hal-hal yang bagiku berarti.
Diantara yang kita pikirkan dan mampu kita ucapkan serta kita lakukan
terdapat jarak yang begitu lebar. Tak peduli berapa lama jarum jam
berputar. Aku hanya bisa menulis semacam diary. Bukan karya sastra.
Hanya coretan-coretan tak berbentuk dan tak perlu dicari pesan apa yang
dikandungnya.
Bila kau mendambakan sastra, sebaiknya kau tanyakan saja pada mereka
yang selalu membicarakan penindasan. Kalimat yang kususun hanya sebatas
itu. Tak ubahnya seperti pemain sepak bola yang sudah berjam-jam
melakukan pemanasan namun tak kunjung dimainkan.
2
Aku akan menulis cerita. Cerita yang kelak menjadi kenang-kenangan.
Setidaknya mampu menghibur hari tuaku saat suatu hari nanti aku
merindukan masa-masa muda dulu. Baiklah, ceritaku ini terjadi hanya
dalam sepuluh hari di tahun 2011.